Ketatnya Pemeriksaan Keamanan Dibalik Tenangnya Kota Davao, Filipina
202110415003
Jika Indonesia punya Yogyakarta, maka Filipina juga punya kota yang tenteram, menenangkan, dan teratur, bernama Davao. Berada di pulau Mindanao, kota ini berupakan salah satu 3 kota terbesar dan paling berkembang di Filipina setelah Manila dan Cebu.
Tulisan ini merupakan hasil observasi perjalanan saya selama satu minggu pertama di kota Davao, dimana saya akan melaksanakan pertukaran mahasiswa selama satu semester. Selain hal-hal seperti pendidikan, bahasa, budaya, ada satu yang seringkali membuat saya terkejut, yaitu bagaimana ketatnya protokol keamanan yang ada.
Keamanan
yang saya maksud adalah keamanan yang diterapkan di tempat-tempat umum seperti
kampus, sekolah, mall, pasar, gereja dan lain-lain. Bagaimana tidak, contohnya
setiap kali kita ingin memasuki pusat perbelanjaan atau tempat umum, kita akan
selalu menemui security atau penjaga
keamanan di gerbang yang akan memeriksa seluruh isi di dalam tas kita.
Menurut Rod Francis, salah satu mahasiswa yang saya kenal di sini, hal tersebut dilakukan untuk mencegah orang membawa barang-barang berbahaya yang bisa memicu hal-hal tidak diinginkan. Ia juga bercerita ketika kami mengunjungi Roxas Night Market, sebuah pasar malam yang menjual jajanan street food, bahwa tepat di pasar malam tersebut pernah terjadi pengeboman pada tahun 2016 yang menewaskan belasan orang dan puluhan luka-luka.
Filipina bagian selatan atau lebih tepatnya Mindanao memang memiliki rekam jejak konflik yang panjang. Khususnya antara kelompok muslim dan pemerintah Filipina. Ketika kami bertemu dan mengadakan rapat dengan para petinggi di kampus University of Mindanao pun mereka menyarankan untuk tidak pergi ke daerah-daerah tertentu yang dibilang cukup berisiko. Daerah-daerah yang disebutkan seperti bernama Marawi, dan Sultan Kudarat.
Berbicara tentang Filipina, tidak lupa membahas Rodrigo Duterte, mantan Presiden negara tersebut yang dikenal sangat tegas, tercatat menghukum mati kriminal seperti bandar narkoba, dan kejahatan besar lainnya. Sebelum menduduki kursi Presiden, pria ini adalah Walikota Davao selama 2 dekade pada periode 1988-1998 dan 2001-2010. Dilansir dari ft.com yang menjelaskan pendapat analis politik dari De La Salle University di Manila, Richard Javad Heydarian memaparkan bahwa Rodrigo Duterte dilihat sebagai orang yang bisa menyulap Davao menjadi makmur dan stabil dalam satu malam di tengah-tengah daerah konflik Mindanao. Itulah yang bisa mengantarkan Duterte naik menjadi Presiden pada 2016-2022 lalu.
Kombinasi dari daerah konflik dan jejak kepemimpinan tegas itulah yang saya rasa sampai saat ini membuat kota Davao menjadi lebih tenang, damai, dan tenteram. Kita pun bisa sering melihat aparat, polisi, dan tentara berada di tempat-tempat umum dengan senjata laras panjang di tangan. Di sini, di kota Davao juga orang tidak diperbolehkan membeli minuman alkohol jika sudah lewat tengah malam.
Satu lagi yang saya amati adalah mahasiswa-mahasiswa di kampus sini juga diharuskan selalu mengalungkan kartu mahasiswa untuk masuk dan berada di lingkungan kampus. Di mana pun keamanan selalu ditempatkan nomor satu. Ada satu kejadian yang menurut saya lucu, bahkan ketika kami memasuki daerah kampus menggunakan kendaraan resmi universitas, penjaga keamanan tetap memeriksa mobil menggunakan alat pendeteksi keamanan.
Life is Here, itulah slogan resmi kota Davao. Orang-orang, turis pergi ke sini untuk bersantai, menenangkan diri, dan juga berlibur. Dibalik tentramnya kota, segala protokol keamanan diterapkan seperti yang disebutkan di atas.
Referensi:
Mindanao Conflict: In Search of Peace and Human Rights. (n.d.). ヒューライツ大阪.
Peel, M. (2017, February 2). Drugs and death in Davao: The making of Rodrigo Duterte. Financial Times.
Comments
Post a Comment