Mengenal Lebih Dekat Mengenai Film Eksperimental Dengan Club Film “Koffi” Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Film adalah salah satu bentuk seni yang memiliki tingkat eksklusivitas yang tinggi pada estetika kehidupan masyarakat kita. Karena bagi sebagian masyarakat menganggap bahwa film sebagai tingkatan seni yang berbeda atau yang sulit untuk dimaksimalkan pada proses pembuatannya, hal ini pula lah yang membuat film sempat terhambat perkembangannya di tanah air. Banyak juga yang beranggapan bahwa membuat film adalah suatu hal yang mustahil bagi masyarakat awam, sebab tiap proses pembuatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan alat-alat yang memadai serta SDM yang memiliki pengetahuan dalam bidang film tersebut.
Namun, pada saat ini mulai banyak sineas-sineas yang bermunculan baik dari komunitas, universitas hingga rumah produksi yang mendobrak paradigma terhadap pembuatan film pada masyarakat awam, ada yang membuat buku hingga berani bereksperimen pada suatu produksi film.
Film eksperimental sendiri adalah salah satu jenis film yang biasanya digunakan bagi para sineas untuk membuat atau mencoba berbagai hal baru, seperti peralatan dan cerita. Namun, dalam beberapa hal film eksperimental juga digunakan untuk mengangkat suatu isu-isu tertentu yang biasanya ditulis berdasarkan pengalaman dan literasi sang sutradara.
Di dalam organisasi KOFFI (komunitas film dan televisi fikom) ada film yang ditulis berdasarkan hasil dari literasi dan pengalaman sang sutradara, yaitu Malaikat Kecilku, film yang berdurasi 12.49 menit itu menceritakan tentang kisah seorang kakak(Samudra) yang menjadi tahanan hukuman mati dengan pasal pembunuhan berencana, lantaran mengetahui adiknya yang dilecehkan oleh temannya sendiri.
Dalam film Malaikat Kecilku sang sutradara, Daniel Adera mengungkapkan bahwa dirinya ingin mengangkat perihal isu pelecehan seksual yang hingga kini angkanya masih terbilang cukup tinggi, dengan menampilkan adegan adiknya(Hindia) Samudra yang tidak kuat menahan rasa malu serta trauma yang melekat pada dirinya dan memilih untuk bunuh diri.
Daniel Adera “sebenarnya film ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan bahayanya trauma yang dialami korban pelecehan seksual, namun film ini mengambil dari sudut pandang si kakak(Samudra) dan sebenernya juga buat bereksperimen soal pemakaian dan juga apakah penonton tertarik pada cerita yang mengangkat isu tertentu” ungkap sang sutradara
Dengan biaya produksi yang tidak terlalu besar serta pemakaian alat yang tidak bisa dibilang cukup lengkap, akan tetapi berkat kemampuan sang sutradara beserta kru dapat menghasilkan film eksperimental yang cukup layak untuk ditonton.
Comments
Post a Comment